Selamat Datang

Mahasiswa Baru Angkatan 2017 di Kampus Biru Jaz Biru. Mari bergabung bersama kami Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Agrobistek

Ideologi Gerakan IMM

Sebuah identitas yang bisa membedakan IMM dari organisasi-organisasi lain di saat organisasi-organisasi kepemudaan yang lain mulai terperosok pada jerat kekuasaan dan politik vertical, IMM tetap bersih dan selalu berusaha bersih.

Selamat Datang di Website

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Agrobistek Universitas Muhammadiyah Jember

Senin, 20 Mei 2019

Peringati Milad ke-8, Agrobistek Selenggarakan Santunan Anak Yatim




(Gambar oleh: Immawan Cahyo): Foto bersama IMM Agrobistek dan anak yatim


Jember-  Tepat pada bulan Ramadhan ini peringatan milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah komisariat Agrobistek yang ke-8 dilaksanakan. Ada 2 rangkaian acara yang dilaksanakan pada waktu yang berbeda.

Ahad (19/5), bertempat di panti asuhan Mambaul Ulum santunan anak yatim dan buka bersama digelar. Sebelum acara inti, lomba adzan dan sambung ayat digelar sebagai ajang ngabuburit positif sekaligus memberikan ilmu kepada 45 anak yatim yang hadir. Dengan dukungan oleh pihak Fakultas Pertanian dan Lazismuh Jember, pembagian santunan diberikan dalam bentuk uang, alat tulis, pakaian dan sembako. Santunan diberikan langsung kepada anak-anak yatim dan pengurus panti asuhan.

Sambutan dari pihak panti asuhan Mambaul Ulum
Dalam pelaksanaannya, acara tersebut sangat disambut baik dan antusias oleh pihak panti asuhan. Acara ditutup dengan buka bersama oleh kader dan PK. Agrobistek serta anak yatim. Berbagi rizki dan kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkan adalah perwujudan rasa syukur dan harapan baik bagi Agrobistek untuk ke depannya.

“Santunan anak yatim ini sebagai perwujudan humanitas IMM Agrobistek serta penerapan teologi Al-Ma’un.” Terang ketua umum komisariat Agrobistek Ari Susanto.

Banyak harapan dan do’a dipanjatkan agar Agrobistek tetap menjadi Garda terdepan perjuangan. Tak hanya religiusitas dan intelektualitas akan tetapi memupuk rasa humanitas pada diri kader melalui kegiatan sosial. Selain itu, rasa kepekaan sosial juga diharapkan selalu hadir pada diri kader dalam memberikan perhatian kepada lingkungan-lingkungan sekitar khususnya yang membutuhkan bantuan dan perhatian.
Pembagian santunan kepada anak yatim

M. Sil




Rabu, 23 Januari 2019

‌Fiksi Ilmiah Menjadi Literator Pembaca


IMMawan Yusril W.R.

Mahasiswa kerap dianggap sebagai salah satu agen perubahan zaman. Di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi sekarang ini, terkadang dibebani pula harapan untuk mampu memberi nilai-nilai bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan tersebut. Harapannya, mahasiswa bisa mentransformasikan nilai-nilai yang bermanfaat untuk masyarakat modern dan paham  dengan menghadapi kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dewasa ini.

Tentu pendapat-pendapat di atas masuk akal. Kita bisa tambahkan lebih jauh lagi dalam konjungtur-konjungtur sejarah tertentu, mahasiswa harus bisa menciptakan suatu karya atau kreativitas bahkan harus mendahului dan menyumbangkan imajinasi untuk kemajuan teknologi dan sains. Contohnya seperti Jules Verne seorang pengarang novel/fiksi yang mengimajinasikan tentang kapal selam yang berbentuk elektrik dan petualangan ribuan kaki di bawah permukaan laut. Jauh sebelum manusia menemukan pesawat, sejak arus sudah mengalami kecelakaan penerbangan yang pertama kali. Verne sendiri sesungguhnya hanya mengklaim dirinya sebagai pengarang kisah perjalanan. "Aku tak pernah menyatakan sesuatu yang bersifat keilmuan. Minatku yang utama adalah geografi," ungkapan dari Venre pengarang fiksi itu, penguasaan pada geografi itu yang agaknya membuat dia dapat "berkeliling dunia", menjelajah ke pusat-dalam bumi, menyelam ke dasar samudra, sampai menjelajah ruang angkasa, dengan kendaraan imajinasi. Tapi, ternyata Verne tak sepenuhnya berkhayal. Novelnya Around The World In Eighty Day ternyata terinspirasi dari buku penjelajah ternama Thomas Cook. Dalam lebih dari 100 novelnya, Verne memadukan Kimia, Fisika, Geografi, Geologi, Astronomi menulis penuh detail, seakan dijabarkan ilmuan profesional yang merancang dunia masa depan.

Membaca sejarah Indonesia, keterkaitan antara sastra dan perubahan sosial memang sudah jelas. Sebelum imajinasi penindasan oleh penjajah benar-benar mendorong perjuangan, sastra sudah mengutuknya, misalnya oleh Multatuli nama asli sebutan Eduard Douwes Dekker juga dikenal penulis dari Belanda yang bukunya terkenal dengan Max Havelaar. Chairil Anwar adalah penulis puisi yang dikenal " si binatang jalang ", sajak-sajaknya bisa juga kita lihat sebagai daya ubah kebudayaan masyarakat paguyuban tradisional Indonesia menuju masyarakat modern yang individualistik. Artinya, literator kita hadir untuk menyiapkan atau mengiringi masyarakatnya untuk masuk dalam sebuah perubahan zaman milenial ini.

‌Mahasiswa perlu adanya untuk membaca dan menganalisa kehidupan di alam semesta ini, karena dalam sebuah sastra tentu memerlukan ide atau gagasan yang memang perlu dilakukan secara proses istiqomah untuk menjalaninya. Gerak sastra beriringan dengan gerak tubuh sosial. Sastra yang terlibat dalam perubahan adalah sastra yang juga menyadari bahwa lempengan sejarah sedang bergeser, yang mempunya kepekaan dan insting terhadap perubahan gambar-besar yang tengah terjadi. Kesadaran akan perubahan ini tidak hanya diekspresikan dalam isi suatu karya sastra dalam arti aspirasi yang disuarakan oleh suatu karya tapi juga dalam bentuk. Perlawanan Chairil anwar terhadap kebudayaan feodal menemukan bentuk estetisnya dalam struktur puisi lama serta  ketepatan diksi dalam mengekspresikan suasana jiwa tertentu. Tindakan melawan dengan mengubah konfigurasi atau bentuk sastra secara radikal ini adalah salah satu monumen perubahan kesadaran sosial. Dalam kesunyian puisi-puisinya, Chairil anwar sebenarnya tidak sedang berbicara tentang kemasygulan relung hatinya yang paling dalam, melainkan sedang mengekspresikan kemasygulan sosial yang tengah dirundung pergolakan dan perlawanan.maka dari itu dalam cerita tulisan ini mengajak kalangan mahasiswa untuk mengubah mindset menjadi literator-litetator baru seperti literator zaman dahulu yang telah menciptakan segala  hal pemikiran. Suatu gerakan tidak akan dimulai kalau tidak ada kekerasan di dalam penggerak itu sendiri. Oleh karena itu manfaatkan sebaik-baiknya, gapai dan raihlah sejarah baru di era milenial ini .

Pertanyaannya kemudian, "apabila masyarakat kita sedang bergerak menuju perubahan radikal, atau setidaknya melakukan perubahan radikal tersebut, apakah kesusasteraan kita dewasa ini bisa menampungnya?”.

Secara umum,  kita dewasa ini setidaknya terganjal oleh tiga masalah besar yaitu malas membaca sastra /sejarah sastra, atau tidak peka dengan moda produksi dan reproduksi kehidupan masyarakat hari ini, atau memahami sastra/sejarah sastra dan memahami moda produksi serta reproduksi kehidupan masyarakat, tapi menganggap bahwa kedua hal tersebut tidak relevan dalam produksi sastra.

Implikasi dari tiga problem itu bisa kita temukan dalam toko-toko buku terdekat. Sastra kita masih bicara tentang “angin lembayung senja yang menampar pipi dengan nikmatnya”, ketika udara itu kini secara tak kasat mata dimaknai sebagai sarana lalu lintas sinyal elektromagnetik. Ketika di dasar-dasar laut kita ditanamkan kabel-kabel serat optik untuk membangun jaringan Internet, sastra kita masih bercerita tentang “desiran angin di daun kelapa serta belaian gelombang pada kaki kita”. Sastra kita masih saja berbicara tentang udara, angin, dan laut dengan persepsi atasnya yang tak jauh beda dari era pujangga baru. Sastra kita seolah-olah berjalan di tempat  dan tetap dekaden atau merosot, sekalipun kalau isinya menyerukan revolusi. Sementara, realitas sosial kita sudah berubah secara drastis akibat kehadiran teknologi, pemahaman kita tentang realisme sosialis layaknya antivirus yang tak pernah diperbaharui sejak pertama kali diunduh dari Soviet. Kita hidup di sebuah masa yang  sama sekali sudah berbeda.

Dalam Arkeologies of the future, Frederich Jameson mati-matian mengadvokasikan utopia serta turunannya dalam bidang kesusasteraan, fiksi ilmiah sebagai salah satu daya revolusioner. Seorang Marxis tentu akan membantah: utopia adalah pola pikir dekaden yang menjual mimpi tentang masa depan sampai manusia lupa dengan penderitaannya hari ini. Itu salah satu pembacaan yang mungkin atas utopia/fiksi ilmiah. Namun, di Sovyet, proyek politik gigantis atau pertumbuhan bagian tubuh yang melebihi ukuran normal, yang pertama kali menunjukkan bahwasanya Marxisme adalah benar adanya, punya investasi besar dalam utopia atau fiksi ilmiah pada umumnya dalam pembentukan kesadaran massa





(Yusril Wahyu)

Senin, 03 April 2017

PENDAFTARAN LOMBA MILAD AGROBISTEK KE-6

AYO BURUAN DAFTAR..!

Jika ingin daftar Klink



Minggu, 18 September 2016

srtuktur organisasi imm komisariat agrobistek


Selasa, 13 September 2016

GALERI REFRESHING













GALERI BINA DESA












GALERI PENANAMAN MANGROVE

di Pantai Pacer Kec. Puger Kab. Jember